!-- -->
Minggu, 20 November 2011 - 15:36:45 WIB
PENGARUH Trichoderma harzianum TERHADAP SERANGAN PENYAKIT LAYU Fusarium oxysporum f.sp capsici PADA
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Jurusan Biologi - Dibaca - : 6474 kali

PENGARUH Trichoderma harzianum TERHADAP SERANGAN PENYAKIT LAYU Fusarium oxysporum f.sp capsici  PADA TANAMAN

CABAI MERAH (Capsicum annum)

 

Vauzia, Moralita Chatri dan Ria Eldisa

Staf Pengajar Jurusan Biologi  FMIPA Universitas Negeri Padang

 

Abstract

                                                      

The fungisida is usually used to cotnrol disease of plant., but not so effective and has a negative effect to environment, also is not efficient. To achieve another altenantive to control the wilt disesase from  Fusarium oxysporum f.sp capsici, using biological approach such as antagonism characteristic between two fungies can be promoted. The experiment on the effect of Trichoderma harzianum on Fusarium oxysporum f.sp capsici  causing wilt disease of pepper as been carry out from  Oktober to Desember 2005 in  Protection Building of Food  and Horticulture Plant Laboratory, Bandar Buat Padang . This experiment with six treatment and four replication. The treatment were dosages of  Trichoderma harzianum, that  0, 3, 6, 9, 12 and 15 g/kg soil. The result of experiment showed that application of 15 g/kg soil gave the better result to controlling wilt diseases of pepper.

Key word : Trichoderma harzianum, Fusarium oxysporum fsp. capsici, wilt diseases

 

PENDAHULUAN

Cabai merah (Capsicum annuum ) merupakan salah satu komoditas  yanmg dikonsumsi di dalama negeri maupun komuditas eksport. Sebagai rempah-rempah, cabe merah mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Cabe merah adalah salah satu rempah yang paling banyak digunakan dalam bentuk segar atau olahan untuk konsumsi rumah tangga, industri dan pengolahan makanan (Anonim, 1997).

Usaha untuk meningkatkan produksi cabe merah terus dilaksanakan karena dari waktu ke waktu, permintaan produksi cabe terus meningkat. Namun usaha peningkatan produksi cabe seringkalai mengalami beberapa hambatan. Salah satu hambatan tersebut disebabkan oleh gangguan organisme penggannggu tanaman (OPT) (Cahyono, 1994). Salah satu penyakit penting pada tanamn caabe adalah penyakit layu Fusarium. Penyakit layu Fusarium pada tanaman cabe merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum f.sp capsici. Jamur ini menyerang jaringan empulur batang melalui akar yang luka dan terinfeksi. Batang yang terserang akan kehilangan banyak cairan dan berubah warna menjadi kecoklatan, tepi bawah daun menjadi kuning, merambat ke bagian lain secara cepat sehingga seluruh permukaan daun tersebut menguning (Anonim, 1997). Patogen ini bersifat parasit fakultatif. Tanaman inang adalah tanaman muda dan penyakit ditularkan melalui bahan vegetatif dari inang (Endah, 2002). Penyakit ini bisa mengakibatkan gagal panen sampai 50 % (Wiryanta, 2002). 

Layu Fusarium baisanya menyerang tanaman cabai pada pH tanah yang asam (≤ 6) dan tanah yang banyak mengandung unsur N dan sedikit unsur K (Pracaya, 1994). Gejala penyakit pada tanaman adalah tulang daun sebelah atas memucat, kemudian diikuti dengan menunduknya tangkai, busuk basah pada berkas pembuluh dan agak berbau amoniak (Pratnanto, 2002).

Pencegahan derangan penyakit layu Fusarium yang sering dilakukan adalah dengan penggunaan pestisida. Secara teknis penggunaan pestisida sebaiknya dihindari karena dapat memberikan dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, diupayakan alternatif lain untuk mengendalikan patogen penyebab penyakit tasnaman yaitu dengan penggunaan agen hayati, di antaranya jamur Trichoderma harzianum, Gliocladium dan Aspergillus (Anonim, 2000).

Dari  penelitian yang telah dilakukan, telah  dapat  dibuktikan  bahwa T. harzianum efektif dalam menekan pertumbuhan jamur patogen, seperti pada penelitian Litania (2003), yang telah menggunakan T. Harzianum untuk menekan  pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum f.sp cubense dan efektif pada dosis 9 g/kg tanah, Sedangkan pemelitian Efendi (2003), pemberian 6 g/kg tanah T. harzianum efektif menekan pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum f.sp lycopersici.

Mekanisme antagonis T. harzianum adalah kompetisi, antibiosis, parasitisme dan lisis (Harman, 2003). Jamur ini bersifat mikoparasit dan kompetitor yang agresif bagi patogen (Deacon and Lorraine. 1993). Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh T. harzianum dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum f.sp capsici yang menyebabkan penyakit layu tanaman cabai merah  dan mengetahui dosis biakan T. harzianum yang paling efektif dalam mengendalikan jamur Fusarium oxysporum f.sp capsici yang menyebabkan penyakit layu  pada tanaman cabai merah.

 

 

METODE PENELITIAN

 

    Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2005 di Laboratorium Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Bandar Buat Padang Sumatera Barat.

    Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah dosis biakan jamur T. harzianum yang berbeda yaitu: A. (0 g/kg tanah ), B (3 g/kg tanah), C (6 g/kg tanah), D (9 g/kg tanah), E (12 g/kg tanah) dan F (15 g/kg tanah). Parameter yang diamati adalah Gejala awal, persentase tanaman yang terserang dan persentase tanaman yang mati

    Pengamatan dilakukan sejak munculnya gejala awal sampai tidak ada lagi tanaman yang terserang. Gejala awal ditandai dengan adanya bercak pada pangkal batang tanaman dan tanaman menjadi layu. Untuk menghitung persentase tanaman yang terserang penyakit digunakan rumus sebagai berikut:

                P =        x  100 %

                Dimana :

P = Persentase tanaman yang terserang penyakit

a = Jumlah tanaman yang terserang

A = Jumlah tanaman yang ditanam

 

Pengamatan dilakukan sampai tanaman berumur 3 bulan.

        Untuk menghitung persentase tanaman yang mati digunakan rumus berikut :

                Q   =  x  100 %

                Dimana :

Q = persentase tanamanyang mati pada setiap perlakuan

r = jumlah tanaman yang mati pada setiap perlakuan

R = jumlah tanaman pada setiap perlakuan

        Untuk saat muncul gejala awal data dianalisis berdasarkan saat munculnya gejala pada tanaman (hari ke) dan untuk jumlah tanaman terserang dan tanaman yang mati data dianalisis berdasarkan persentase.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

1.Saat Munculnya Gejala Awal ( hari ke- )

Hari munculnya gejala awal terhadap serangan Fusarium oxysporum f.sp capsici penyebab penyakit layu pada tanaman cabai merah  dengan pemberian dosis T. harzianum yang berbeda didapatkan hasil seperti pada Tabel 1 berikut.

 

Tabel 1.  Saat munculnya gejala awal serangan penyakit layu pada cabai merah yang disebabkan  oleh Fusarium oxysporum f.sp capsici dengan pemberian dosis biakan T. harzianum yang berbeda.

Ulangan Saat Muncul Gejala Awal (Hari ke-)
A.(0 g/kg tanah B.(3 g/kg tanah C.(6 g/kg tanah) D. (9 g/kg tanah) E.(12 g/kg tanah) G.(15 g/kg tanah)
1 4 5 6 10 12 Gejala tidak muncul
2 5 7 7 Gejala tidak muncul Gejala tidak muncul Gejala tidak muncul
3 6 Gejala tidak muncul 8 12 Gejala tidak muncul Gejala tidak muncul
4 4 8 Gejala tidak muncul Gejala tidak muncul Gejala tidak muncul Gejala tidak muncul

 

Berdasarkan pengamatan terhadap munculnya gejala awal penyakit layu pada tanaman cabai merah yang disebabkan  oleh Fusarium oxysporum f.sp capsicimenunjukkan adanya penundaan terhadap timbulnya gejala penyakit  seiring dengan peningkatan dosis biakan jamur T. harzianum. Hal ini sesuai dengan pendapat Cook dan Barker (1983), bahwa salah satu faktor yang menentukan keberhasilan penggunaan jamur antagonis dalam pengendalian biologis adalah banyaknya populasi jamur antagonis yang diinokulasikan kedalam tanah. Dalam hal ini dapat dilihat, bahwa semakin tinggi dosis biakan jamur T. harzianum dalam tanah, semakin lambat terlihat gejala awal penyakit, seperti pada  perlakuan F. Sebaliknya    semakin rendah     dosis biakan jamur T. harzianum dalam tanah, semakin cepat terlihat gejala awal penyakit layu oleh Fusarium oxysporum f.sp capsici. Gejala penyakit paling cepat muncul pada perlakuan A (0 g/kg tanah atau kontrol) disebabkan karena tidak adanya jamur antagonis dalam tanah, sehingga jamur patogen berkembang dengan cepat dan langsung menyerang tanaman, sesuai dengan pendapat Sastrahidayat (1990) bahwa jika pada tanah steril diberikan jamur patogen, maka jamur tersebut akan menyebar lebih cepat dan dengan serangan yang lebih tinggi karena tidak adanya jamur antagonis di dalam tanah yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan jamur patogen tersebut.

Jamur T. harzianum ini bersifat mikroparasit pada hifa dari patogen, mempunyai daya kompetisi yang tinggi, memiliki daya tahan hidup lama, dan mampu mengkolonisasi substrat dengan cepat (Salamiah dkk, 2003). Mekanisme antagonis T. harzianum dapat berupa kompetisi, antibiosis, parasitisme, dan lisis (Habazar dan Yaherwandi, 2006).

 

2. Persentase Tanaman Terserang dan Persentase Tanaman yang Mati.

Persentase tanaman yang terserang Fusarium oxysporum f.sp capsici penyebab penyakit layu pada tanaman cabai merah dengan pemberian dosis T. harzianum yang berbeda didapatkan hasil seperti pada Tabel  2.

 

Tabel 2. Persentase tanaman terserang penyakit layu pada cabai merah  yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp capsici dengan pemberian dosis T. harzianum yang berbeda.

Perlakuan

Persentase tanaman

yang terserang (%)

Persentase tanaman

yang mati (%)

A. (0 g/kg tanah)

100 0

B. (3 g/kg tanah)

75 0

C. (6 g/kg tanah)

75 0

D. (9 g/kg tanah)

50 0

E. (12 g/kg tanah)

25 0

F. (15 g/kg tanah)

0 0

   Dari Tabel 2 dapat dilihat persentase tanaman yang terserang  lebih rendah dibandingkan dengan tidak diberi biakan T. harzianum. Pada perlakuan A (0 g/kg tanah atau kontrol) persentase serangannya mencapai  100 %, pada perlakuan B dan C  persentase serangan  menurun, masing-masingnya 75 %. Pada perlakuan  D dan E semakin menurun, masing- masing 50 % dan 25 %. Sedangkan pada perlakuan F  tidak satupun tanaman yang terserang.

Hal ini disebabkan   karena  terjadinya aktifitas antagonis antara jamur    T. harzianum dengan jamur Fusarium oxysporum f.sp capsici. Aktifitas  antagonis yang dilakukan jamur T. harzianum untuk menghambat pertumbuhan jamur patogen Fusarium oxysporum f.sp capsici antara lain dikaitkan dengan kemampuannya menghasilkan enzim kitinase. Enzim kitinase yang diproduksi oleh genus Trichoderma lebih efektif dari pada enzim kitinase yang dihasilkan organisme lain, untuk menghambat berbagai jamur patogen tanaman (Nugroho dan Ginting, 2003). T. harzianum juga dapat mengeluarkan antibiotik trichoderin yang mematikan jamur yang merugikan. Dengan mengeluarkan antibiotik tersebut T. harzianum dapat menekan serangan penyakit pada tanaman (Marshari, 2005).

Dari hasil pengamatan persentase tanaman yang terserang dapat diketahui bahwa dosis T. harzianum yang paling efektif untuk menghambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum f.sp. capsici  penyebab  penyakit   layu  pada tanaman   cabai  merah adalah 15 g/kg tanah karena pada dosis tersebut tidak adalagi tanaman cabai merah yang terkena penyakit layu.

Pengamatan terhadap persentase tanaman yang mati, ternyata tak satupun tanaman yang mati, tetapi hanya menunjukkan gejala penyakit pada perlakuan A, B, C, D dan E. Tidak matinya tanaman cabe tersebut mungkin disebabkan karena umur tanaman semakin tua, sehinga tanaman semakin tahan terhadap serangan layu Fusarium oxysporum f.sp. capsici dibandingkan dengan tanaman yang masih muda. Namun, pertumbuhan tanaman tersebut tidaklah sebaik tanaman yang tidak terserang penyakit layu tersebut.

 

KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, maka diambil kesimpulan sebagai berikut:

1.       Trichoderma. harzianum dapat mengendalikan serangan Fusarium oxysporum f.sp.capsici penyebab penyakit layu pada tanaman cabai merah.     

2.       Dosis biakan yang efektif  dari T. harzianum untuk mengendalikan serangan Fusarium oxysporum f.sp. capsici penyebab layu pada tanaman cabai merah adalah 15 g/kg tanah.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. (1997). Pengenalan dan Pengendalian Penyakit benih. Direktorat Jendral Tanaman Pangan dan Holtikultura. Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. Jakarta.

 

-----------. (2000). Pengomposan Jerami Padi dengan Trichoderma harzianum. Depertamen Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. BPTP Sukarami.

Cahyono, B. (1994). Usaha Tani Cabai Merah yang Berhasil. CV Aneka Solo. Semarang.

Cook, R. J. dan K. F. Baker. (1983). Biologycal Control of Plant Pathogens. W. H. Freeman and Company: San Fransisco.

Deacon, J.W and A.B Lorraine. (1993). Biokontrol of Soil-Borne Plant Pathogens. Concepts and Their Application. Pestic. Sci.

Endah, H.J. (2002). Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Efendi, S. (2003). Efektifitas Lima Isolat Trichoderma harzianum terhadap Patogen Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici Sacc. Secara In Vitro. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Andalas. Padang.

Habazar, T dan Yaherwandi. (2006). Pengendalian Hayati. Andalas University Press: Padang.

Harman, G.E. (2003). Trichoderma spp., Including T. harzianum, T. viridae, T. koningii and other spp. Cornel University. Geneva. New York.

Litania, N. (2003). Uji Kemampuan Tiga Spesies Trichoderma sp. Terhadap Fusarium oxysporum f.sp cubense Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Pisang Secara In Vitro. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Andalas. Padang.

Marshari, A. (2005). Hama dan Penyakit. (http://www.tanindo.com, diakses tanggal 1 November 2006).

Nugroho, A dan Ginting. (2003). Isolasi dan Karakterisasi Sebagian Kitinase Trichoderma viridae TNJ63. Jurnal Nature Indonesia, (5)2: 101-106.

Pratnanto, F. (2002). Kiat Sukses Bertanam Cabai di Musim Hujan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pracaya. (1994). Bertanam Lombok. Penerbit Kanisius. Jakarta.

Salamiah, E. Fikri, Asmarabia. (2004). Viabilitas Trichoderma harzianum Pada Beberapa Bahan Pembawa dan Lama Penyompanan yang Berbeda. Universitas Lampung Mangkurat. (http://www.salamiah, annisyah@yahoo.com, diakses tanggal 12 November 2006).

Sastrahidayat, I.R. (1990). Ilmu Penyakit Tumbuhan. Usaha Nasional. Surabaya.

Wiryant

A.(0 g/kg tanah)

B.(3 g/kg tanah)

C.(6 g/kg tanah)

D.(9 g/kg tanah)

E.(12 g/kg tanah

F.(15 g/kg tanah



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)