!-- -->
Minggu, 20 November 2011 - 15:33:13 WIB
GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF AKIBAT INFEKSI CACING YANG DITULARKAN MELALUI TANAH
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Jurusan Biologi - Dibaca - : 29259 kali

GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF AKIBAT INFEKSI CACING

YANG DITULARKAN MELALUI TANAH

 

Mades Fifendy

Staf Pengajar Jurusan Biologi FMIPA UNP

 

ABSTRACT

 

Soil transmitted helminthes are intestine worm which the was growth of form of him happened in appropriate land ground. Important soil transmitted helminthes at human being are Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Trichuris trichiura, Ancylostoma duodenale and  of Strongyloides stercoralis. Result of the research of Bundy et al. (1992) found degradation of cognate ability at Elementary school child which is infection Trichuris trichiura in Jamaica. In Kenya (Stephenson, 1993) showing downhill of him health of bodily, appetite and growth eat school children which is worm infection Ascaris lumbricoides, Trichuris  trichiura. Research of Mohammad (1994) in Malaysia, intestine worm infection have an effect on to intellegence, bouncing and achievement learn school children (Oemijati, 1995). And Hadidjaya (1996) also found relation of causal between Elementary School children in Jakarta which is infection by intestine worm with degradation of cognate function. Infection by soil transmitted helminthes is cronic, able to generate trouble of gizi, ferrum deficiencies and anaemia. Children with heavy infection show delay of physical, bouncing and sexual. Askariosis can generate trouble of absorbtion of vitamin and gizi also diarrhoea, so that influence the quality of life of child (Ismid at al., 1998). Adult worm of Ascaris lumbricoides in general do not generate disparity, except to heavy infection like trouble of absorbsi protein, carbohydrate and vitamin. Influence of hookworm infection to anaemia, ferrum deficiencies and protein insuffiency. ferrum metabolism, blood can eliminate protein and ferrum. Influence of infection of Trichuris trichiura to anaemia and gizi.

 

Key word:     cognate function, soil transmitted helminthes, Ascaris umbicoides, Necator americanus, Trichuris trichiura, Ancylostoma uodenale and Strongyloides stercoralis

 

PENDAHULUAN

               

Cacing yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminthes) adalah cacing usus yang perkembangan bentuk infektifnya terjadi di tanah yang sesuai. Jenis cacing yang ditularkan melalui tanah yang penting pada manusia adalah Ascaris lumbicoides, Necator americanus, Trichuris trichiura, Ancylostoma duodenale dan Strongyloides stercoralis.

Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura memerlukan tanah liat untuk perkembangan bentuk infektifnya, sedangkan Necator americanus, Ancylostoma duodenale dan Strongyloides stercoralis memerlukan tanah gembur, humus dan pasir untuk perkembangan bentuk infektifnya (Gandahusada, dkk., 2005).

Berdasarkan catatan WHO (1997), cacing Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura diperkirakan menginfeksi hampir seperempat dari populasi dunia. Penularan cacing-cacing ini melalui dua cara, yaitu masuknya telur infektif ke dalam mulut melalui makanan dan minuman (pada infeksi A. lumbricoides dan T. trichiura), sedangkan cara lain yaitu masuknya larva infektif (filariform) ke dalam tubuh manusia dengan menembus kulit (pada infeksi N. americanus dan A. duodenale).

Hasil penelitian Bundy dkk. (1992) menemukan penurunan kemampuan kognitif pada anak Sekolah Dasar yang terinfeksi T. trichiura di Jamaika. Di Kenya (Stephenson, 1993) menunjukkan menurunnya kesehatan jasmani, pertumbuhan dan selera makan anak-anak sekolah yang terinfeksi cacing A. lumbricoides dan T. trichiura. Penelitian Mohammad (1994) di Malaysia, infeksi cacing usus berpengaruh terhadap kecerdasan, mental dan prestasi belajar anak-anak sekolah (Oemijati,1995). Dan Hadidjaya (1996) juga menemukan hubungan kausal antara anak-anak Sekolah Dasar di Jakarta yang terinfeksi oleh cacing usus dengan penurunan fungsi kognitif.

Tujuan tulisan ini adalah untuk memberi gambaran kemampuan kognitif mana yang dipengaruhi oleh infeksi cacing, dan faktor apa yang mungkin mempunyai pengaruh terhadap fungsi kognitif.

 

PEMBAHASAN

 

A.  Fungsi Kognitif

Istilah kognitif diartikan sebagai proses untuk memperoleh suatu pengetahuan (termasuk kesadaran dan perasaan) atau usaha untuk mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri (Hadidjaya, 1996).

Dalam ilmu pendidikan dikenal konsep “Taksonomi Bloom”. Aspek kognitif merupakan satu diantara tiga matra yang erat hubungannya dengan matra afektif dan psikomotor. Ketiga matra ini (kognitif, afektif dan psikomotor) dipergunakan untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar pada lembaga-lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam implementasinya, matra kognitif sering digunakan untuk mengukur kemampuan belajar (prestasi) peserta didik.

Kemampuan fungsi kognitif peserta didik biasa diukur melalui potensi akademik yang dimilikinya, yaitu meliputi :

a.       Pengetahuan (knowledge), yaitu kemampuan mengingat apa yang sudah dipelajari.

b.       Pemahaman (comprehension), yaitu kemampuan menangkap sesuatu makna dari yang sudah dipelajari.

c.        Aplikasi (application), yaitu kemampuan untuk menggunakan sesuatu hal yang dipelajar kedalam situasi baru yang konkrit.

d.       Analisis (analysis), yaitu kemampuan untuk memperinci sesuatu hal yang dipelajari ke dalam unsur-unsurnya.

e.        Sintesis (synthesis), yaitu kemampuan untuk mengumpulkan bagian-bagian dalam membentuk suatu kesatuan yang baru.

f.        Evaluasi (evaluation), yaitu kemampuan untuk menentukan nilai sesuatu yang dipelajari untuk suatu tujuan tertentu.

Beberapa kemampuan tersebut di atas bersifat hirarkis, karena kemampuan yang pertama harus dikuasai terlebih dahulu sebelum menguasai kemampuan yang kedua, sedangkan kemampuan yang kedua harus dikuasai dahulu, sebelum menguaai kemampuan yang ke tiga, demikian seterusnya (Hadidjaya, 1996 dan Syam, 1994).

Tes yang dipilih untuk mengukur fungsi kognitif adalah :

a.       Ravens Coloured Progressive Matrices

Tes ini dipergunakan untuk mengukur kemampuan membedakan bentuk-bentuk, membuat alasan secara analogi dan mengorganisasikan persepsi spasial menjadi bentuk yang secara keseluruhan berhubungan dan sistematik.

b.   Tiga Subtes dari Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC)

1)       Digit Span Forward and Backward, tes ini untuk mengukur ingatan jangka pendek dan atensi

2)       Aritmetik, tes ini untuk mengukur kemampuan matematik, komputasi mental dan konsentrasi

3)       Koding, tes ini untuk mengukur kemampuan belajar, maupun ketepatan koordinasi

mata dan tangan, ketrampilan dan daya ingat.

c.   Oddity

Tes ini untuk mengukur kemampuan belajar konsep yang mengarah kepada keganjilan.

Sudah sering dilaporkan, bahwa anak-anak sekolah di negara-negara berkembang mengalami banyak gangguan dalam kegiatan belajar di sekolahnya, sehingga kognitif mereka kurang dapat berfungsi secara normal. Hal ini disebabkan beberapa faktor seperti lingkungan sekolah, tingkat pendidikan orang tua dan masalah kesehatan. Penyakit kronik, kurang gizi, infeksi cacing dan anemia defisiensi zat besi berperanan penting dalam mempengaruhi fungsi kognitif, sehingga dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia (Mohammad, et al, 1996). Oemijati, dkk. (1999) mengatakan, adanya gangguan prestasi belajar pada anak-anak yang menderita malnutrisi dan defisiensi zat besi.

Infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah, termasuk infeksi kronik yang dapat menimbulkan gangguan gizi dan anemia defisiensi zat besi. Prevalensi penyakit cacingan yang ditularkan melalui tanah di Jakarta pada murid usia sekolah dasar masih tinggi yaitu 60-90 % (Oemijati, dkk., 1999). Anak-anak dengan infeksi berat menunjukkan keterlam-batan fisik, mental dan seksual. Askariosis dapat menimbulkan diare dan gangguan absorbsi zat gizi, sehingga mempengaruhi kualitas kehidupan anak (Ismid dkk, 1998).

Dari uraian di atas, ternyata banyak gangguan terhadap status gizi dan anemia yang disebabkan cacing-cacing yang ditularkan melalui tanah. Kelainan-kelainan ini pada penelitian-penelitian ternyata dapat menimbulkan gangguan kognitif.

 

B.  Pengaruh Infeksi Ascaris lumbricoides terhadap Absorbsi Zat Gizi

Cacing dewasa Ascaris lumbricoides pada umumnya tidak menimbulkan kelainan, kecuali pada infeksi berat. Sejumlah cacing akan menghambat mukosa usus halus, akan menghambat absorbsi zat-zat gizi ke dalam jaringan tubuh. Akibat infeksi cacing tersebut bentuk mukosa berubah dan kelainan patologik akan hilang setelah diberikan antelmitik. Secara mekanik cacing tersebut juga dapat merusak usus.

1. Gangguan Absorbsi Protein

Cacing Ascaris lumbricoides di dalam usus menyebabkan hiperperistaltik, sehingga dapat menimbulkan diare. Akibat diare akan terjadi keseimbangan protein yang negative dan asam-asam amino dilepaskan dari otot dan jaringan tepi. Proses ini dapat berlangsung selama beberapa hari, bahkan kadang-kadang sampai beberapa minggu. Sekitar 7% protein yang terdapat dalam diet akan hilang dengan terjadinnya infeksi Ascaris lumbricoides dari sedang sampai berat.

2. Gangguan Absorbsi Karbohidrat

Apabila cacing Ascaris lumbricoides dikeringkan dan ditimbang, 24% dari pada angka tersebut adalah glikogen yang terdapat dalam tubuh cacing, ini menunjukkan adanya kelainan metabolisme laktosa di dalam tubuh. Juga ditemukan lebih banyak hidrigen (H) dalam pernapasan dan kenaikan glukosa plasma yang kurang pada anak-anak terinfeksi Ascaris lumbricoides. Pada anak-anak penderita askariosis, enzim laktosa kurang terabsorbsi dan menghasilkan gas Hidrogen dalam pernapasan. Pada anak-anak terinfeksi Ascaris lumbricoides juga ditemukan steatore ringan, sekitar 10,8% dari berat cacing terdiri dari lemak.

3. Gangguan Absorbsi Vitamin

Absorbsi vitamin A diteliti pada 29 anak penderita askariosis dibandingkan dengan anak sehat, ditemukan mal-absorbsi vitamin A pada 70% penderita askariosis. Kasus askariosis di masyarakat yang disertai dengan vitamin A yang sedikit di dalam makanannya, memberikan peluang terjadinya defisiensi vitamin A yang secara klinik seperti hemeralopia dan seroftalmi. Jumlah vitamin A dan karotin pada penderita askariosis dengan dan tanpa hemeralopia, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak cacingan.

 

C.  Pengaruh Infeksi Cacing Tambang terhadap Anemia, Defisiensi Zat Besi dan Kekurangan Protein

               

Penyakit yang disebabkan cacig tambang (Ankilostomiosis dan Nekatoriosis) pada hakekatnya merupakan penyakit infeksi menahun (kronik), dan biasanya orang yang terinfeksi cacing ini sering tidak menunjukkan gejala akut. Pada anak-anak dengan infeksi berat, dapat mengakibatkan kemunduran fisik dan mental. Tinja penderita mengandung sejumlah darah atau kadang-kadang darah yang tidak bisa dilihat mata biasa (occult blood) dengan mudah dapat ditemukan. Apabila diperhatikan dari segi hematology, biokimia, gejala dan terapinya, maka anemia yang disebabkan oleh cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) tergolong anemia defisiensi besi. Di daerah tropik kadang-kadang anemia yang disebabkan oleh infeksi cacing tambang dapat bersifat dimorfik, karena selain ada defisiensi besi juga terjadi defisiensi zat-zat lainnya (Brown, 1994).

1.   Metabolisme Zat Besi

Pola metabolisme pada anemia yang disebabkan  infeksi cacing tambang adalah sama dengan pola metabolisme pada anemia yang di sebabkan oleh terjadinya perdarahan usus secara menahun dan anemia hipokrom menahun pada perdarahan. Perbedaan patogenitas antara A. duodenale dan N. americanus dapat terjadi adanya kehilangan jumlah darah yang berbeda. Kebiasan cacing yang berpindah-pindah tempat dalam usus menye-babkan lebih banyak tempat di usus yang mengeluarkan darah. Seekor cacing N. americanus dapat menyebabkan kekurangan darah 0,1 cc perhari, sedangkan A. duodenale sampai 0,34 cc perhari (Gercia and Bruckner, 1998).

2.   Perdarahan dapat Menghilangkan Zat Besi dan Protein

Dalam 10 ml darah mengandung lebih dari 750 mg protein dan 5 mg besi, aka tetapi kadar protein di dalam plasma hanya akan berkurang pada kasus-kasus yang berat. Jumlah darah yang hilang karena infeksi cacing tambang tergantung dari berat atau ringannya infeksi. Makin berat infeksi semakin rendah kadar hemoglobin (Hb) dalam darah (Gandahusada, dkk.2005). Teori mengenai sebab terjadinya anemia yang di sebabkan infeksi cacing tambang terjadi sebagai  perdarahan usus yang terjadi pada waktu cacing tambang mengisap darah di dalam usus, dari dahulu para ahli menganggap sebagai penyebab terjadinya anemia, kemudian diajukan teori-teori lain seperti teori toksin oleh Loos dan Ashford, teori malnutrisi, teori hemolisis dan teori perdarahan. Pada kasus anemia yang disebabkan infeksi cacing tambang, kadang-kadang ditemukan eritropoiesis yang berkurang. Kadar vitamin B-12 di dalam serum lebih rendah pada kasus anemia yang disebabkan cacing tambang, yaitu 130-160 % pada kasus infeksi berat dan 179 % pada infeksi ringan, sedangkan pada kasus anemia defisiensi besi lainnya rata-rata 232 ug%.

 

D. Pengaruh Infeksi Trichuris trichiura Terhadap Gizi dan Anemia

Untuk mengambil makanan cacing Trichuris trichiura memasukkan tubuh bagian interiornya ke dalam mukosa usus hospes. Cacing ini dapat hidup beberapa tahun di dalam usus manusia (Faust et al, 1990). Kerusakan mekanik pada bagian kolon disebabkan oleh kepala cacing yang masuk ke dalam epitel, tidak dijumpai peradangan kolon yang difus, apabila terjadi disentri, mukosa menjadi sembab dan rapuh.

Dalam masyarakat, infeksi cacing T. trichiura dengan gejala ringan tidak banyak menimbulkan perhatian. Pada infeksi berat dengan diare yang terus menerus dengan darah di dalam tinja. Adanya kasus diare yang sedang berlangsung selama berbulan-bulan menyebabkan pertumbuhan anak tidak memuaskan, berat badan berkurang dan tidak sesuai dengan umur (Margono, 2001).

Pada kasus infeksi berat, dapat menimbulkan intoksikasi sistemik dan di ikuti anemia yang dapat menyertai infeksi dengan kadar Hb 3 mg per 100 ml darah. Rupanya cacing ini juga mengisap darah hospes, perdarahan dapat terjadi pada tempat melekatnya, kira-kira 0,005 ml darah setiap hari terbuang akibat di isap oleh se ekor cacing ini (Brown, 1993). Berbagai gangguan tersebut di atas, ternyata dapat mengakibatkan pula gangguan kognitif secara tidak langsung. Dilaporkan oleh Hadidjaya (1996) bahwa gangguan kognitif bisa terjadi secara langsung, ia menemukan terdapat hubungan kausal antara infeksi cacing Ascaris lumbricoides dengan fungsi kognitif. Penelitian Nokes, dkk. (1998) melakukan tes kognitif terhadap anak-anak usia sekolah (9-12 tahun) yang terinfeksi cacing Trichuris trichiura dari sedang sampai berat. Hasil tes menunjukkan penurunan kandungan cacing cenderung secara bermakna dapat meningkatkan daya ingat dan pendengaran. Jadi ada hubungan kausal antara anak usia sekolah yang terinfeksi cacing dengan kemampuan kognitifnya.

Mohammad (2004) menggunakan TONI-tes (tes non verbal intelligence) untuk melihat gangguan fungsi kognitif anak-anak yang terinfeksi cacing Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura dari sedang sampai berat pada anak-anak Sekolah Dasar di daerah pedesaan Trengganu (Malaysia), ternyata intensitas penyakit cacingan tersebut mempunyai pengaruh bermakna terhadap kemampuan anak dalam memecahkan masalah.

Di Indonesia prevalensi infeksi A. lumbricoides 71 %, T. trichiura 80 % dan Cacing tambang  40 % pada anak-anak Sekolah Dasar. Adanya gangguan kognitif secara langsung maupun tidak langsung pada penderita infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah, menunjukkan bahwa mutu sumber daya manusia di Indonesia paling sedikit 65 % terganggu. Upaya pemberantasan penyakit cacingan secara berkesinambungan, dapat menurunkan bahkan mungkin menghilangkan sama sekali infeksi cacing di masyarakat. Dengan upaya ini diharapkan mutu sumber daya manusia masyarakat Indonesia dapat ditingkatkan.

 

PENUTUP

 

Infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah di Indonesia masih tinggi, yaitu Ascaris lumbricoides 71%, Trichuris trichiura 80% dan Cacing tambang 40%. Akibat infeksi cacing tersebut menimbulkan gangguan gizi dan anemia. Kedua gangguan ini dilaporkan juga dapat menimbulkan gangguan kognitif pada penderitanya.

Secara langsung infeksi A. lumbricoides dapat menimbulkan gangguan atensi dan konsentrasi, sedangkan infeksi A. lumbricoides dan T. trichiura dapat mengakibatkan gangguan kemampuan memecahkan masalah.

Mengingat prevalensi cacing yang ditularkan melalui tanah di Indonesia tinggi dan dilaporkan telah mengakibatkan gangguan fungsi kognitif secara tidak langsung dan langsung, maka mutu sumber daya manusia Indonesia kualitasnya menjadi rendah.

Pemberantasan infeksi cacing yang berkesinambungan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu sumber daya manusia tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Brown, H.W. (1993). Dasar Parasitologi Klinis. Jakarta : Gramedia.

Dirjen P3M (1990). Pedoman Pemberantasan Penyakit Cacing yang Ditularkan melalui Tanah di Indonesia. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Faust, E.C. ; Russell, P.F. and Jung, R.C. (1990). Clinical Parasitology. 8 th.ed. Philadelphia : Lea and Febiger.

Gandahusada, S.; Illahude, H.D. dan Pribadi, W. (2004). Parasitologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit FKUI.

Gercia, L.S. and Bruckner, D.A. (1998). Diagnostic Medical Parasitology: Intestinal Nematode. Elsiever : Science Publishing Co. Inc.

Hadidjaja, P. et al (1996). The Effect of Ascariosisi Treatment and Health Education an the Cognitive Function on Primary School Children. Medical Jurnal Indonesia. Vol. 5 (189-194). Jakarta.

Ismid, I.S. ; Abidin, S.A. dan Margono, S.S. (1994). Dampak Pola Pengobatan Masal Terhadap Insidens Askariosis pada Anak Sekolah Dasar di Jakarta. Majalah Kedokteran Indonesia. Vol. 44 (224-227), Jakarta.

Mohammad, C.G. ; Oothuman, P. and Cline, B.L. (1996). Intestinal Worm Discriminate the Level’s of School Performance Rural Malaysian Primary School Children. APCO Parasitologist Meeting XVIII, Tokyo. Japan.

Nelson, M. ; Bakaliou, F. and Trivedi, A. (2001). Iron-deficiency Anemia and Physical Performance in Adolescent Girls from Different Ethnic Backgrouns. British Journal of Nuttition, 72 (1-6).

Oemijati, S., dkk. (1998). Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Promosi Budaya Hidup Sehat dengan Pendekatan Kemitraan. Pusdiklat WHO CC for Health for All Leadership Development.

Syam, M. (1994). Dasar Dasar Pendidikan. Jakarta : Penerbit Usaha Nasional.

Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)